Pemanggungan Berkarya Kami :

Ø Gamelan kontemporer dalam acara “ Bhiennale Anak “ di Taman Budaya Yogyakarta tanggal 22 Januari 2010.

Ø Gamelan kontemporer + puisi dalam acara “ ASI – ASE “ di Kampus IST AKPRIND Yogyakarta tanggal 2 Maret 2010.

Ø Penata – Pengiring Musik ( gamelan ) kethoprak “ TUMAPEL “ teater VENA dan RETORIKA UGM di Pendopo Rumah Dinas Walikota Yogyakarta tanggal 27 Maret 2010.

Ø Penata – Pengiring Musik ( gamelan ) kethoprak “ OPERA SUTAWIJAYA “ teater JUBAH MACAN SMA N 3 Yogyakarta di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta tanggal 9 dan 10 April 2010.

Ø Gamelan kontemporer tanggal di Pendopo Tamansiswa, penyambutan tamu siswa-siswi SMA DIY-JATENG tanggal 19 April 2010.

Ø Gamelan kontemporer + puisi dalam acara “ Malam Penganugrahan Festival Teater Remaja 2010 “ di Fakultas Seni Pertunjukkan Jurusan Teater Kampus ISI Yogyakarta tanggal 1 Mei 2010.

Ø Gamelan kontemporer + puisi dalam acara “ Malam Penganugrahan Gelar Panggung Teater 2010 “ di Universitas Muhammadiyah Magelang tanggal 19 Juni 2010.

Ø Gamelan kontemporer dalam acara “ Gala Dinner Perusahaan Medco Jakarta “ di Restaurant Pendopo nDalem tanggal 16 Juli 2010.

Ø Gamelan kontemporer + puisi dalam acara “ Pentas Seni HUT 88 tahun Tamansiswa “ di Pendopo Agung Tamansiswa tanggal 18 Juli 2010.

Ø Gamelan kontemporer dalam acara “ Hari Anak Nasional “ Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta di Taman Pintar tanggal 28 Juli 2010.

Ø Gamelan kontemporer dalam acara “ Pentas Seni Merdeka “ SMA N 11 Yogyakarta dengan bintang tamu MOCCA di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta tanggal 7 Agustus 2010.

Ø Penata – Pengiring Musik ( gamelan ) pargelaran WAYANG KARTUN “ TIBA – TIBA BANJIR “ di Taman Pintar Yogyakarta , tanggal 12 November 2010.

Ø Gamelan kontemporer + puisi dalam acara “ Parade Teater TEATERIKA DOMESTIKA “ di Gedung GKS Widyamandala Kotabaru tanggal 26 November 2010.

Ø Penata – Pengiring Musik ( gamelan ) pementasan teater “ TUM “ teater PEKERJA RUMAH TANGGA Yogyakarta di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta tanggal 4 Desember 2010.

Ø Gamelan kontemporer dalam acara “ Parade Gamelan Anak 2010 “ di Lapangan Realino Kampus Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 19 Desember 2010.

Ø Penata – Pengiring Musik ( gamelan ) pargelaran WAYANG BONEKA “ TIBA – TIBA BANJIR “ dalam acara penutupan PESTA BONEKA #2 di Tembi Contemporary Yogyakarta tanggal 22 Desember 2010.

Ø Dramatic Reading dalam acara HUT Teater Kebon Teboe STIE YKPN di Auditorium STIE YKPN Yogyakarta tanggal 30 Desember 2010.

Ø Penata – Pengiring Musik ( gamelan ) pargelaran WAYANG REPUBLIK “ JOGJA ISTIMEWA “ dalam acara PENGUKUHAN JOGJAKARTA SEBAGAI KOTA REPUBLIK di Pagelaran Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tanggal 4 Januari 2011.

Ø Penata – Pengiring Musik ( gamelan ) pargelaran WAYANG REPUBLIK “ JOGJA ISTIMEWA “ dalam acara DISKUSI TENTANG KEISTIMEWAAN DIY di Pendopo Bangsal Kepatihan Daerah Istimewa Yogyakarta tanggal 11 Januari 2011.

Ø Penata – Pengiring Musik ( gamelan ) pargelaran WAYANG REPUBLIK “ JOGJA ISTIMEWA “ dalam acara DISKUSI TENTANG KEISTIMEWAAN DIY di Pendopo nDalem Wirogenen ( rumah GKR Pembayun ) Yogyakarta tanggal 21 Maret 2011.

Ø Penata – Pengiring Musik ( gamelan ) Study Pentas Tari AKAKOM di Kampus Akakom Yogyakarta tanggal 26 Maret 2011.

Ø Penata – Pengiring Musik ( gamelan ) pargelaran WAYANG KARTUN “ DURMOGATI NGLINDUR “ dalam acara FESTIVAL WAYANG BANDUNG di Kampus ITENAS Bandung tanggal 29 April 2011.

Ø Dubber Wayang pargelaran WAYANG KARTUN “ DURMOGATI NGLINDUR “ dalam acara FESTIVAL WAYANG BANDUNG di Kampus ITENAS Bandung tanggal 29 April 2011.

Ø Penata – Pengiring Musik ( gamelan ) pargelaran WAYANG BONEKA “ KEMBALI KE SEKOLAH “ dalam acara BAKTI SOSIAL di Kepuharjo , Cangkringan tanggal 1 Mei 2011.

Ø Penata – Pengiring Musik ( gamelan ) pargelaran WAYANG BONEKA “ KEMBALI KE SEKOLAH “ dalam acara PENANAMAN POHON MASSAL di Kepuharjo , Cangkringan tanggal 7 Mei 2011.

Ø Gamelan kontemporer dalam acara “ Pekan Budaya Masuk Kampus “ di Universitas Widya Mataram Yogyakarta tanggal 30 Juni 2011.

Ø Gamelan kontemporer dalam acara “ Gala Dinner Perusahaan Pertamina “ di Jomblang Resort Gunung Kidul Yogyakarta tanggal 13 Juli 2011.

Ø Penata – Pengiring Musik ( gamelan ) pargelaran WAYANG BONEKA “ KEMBALI KE SEKOLAH “ dalam acara GELAR SENI PERTUNJUKKAN di Taman Budaya Yogyakarta tanggal 31 Juli 2011.

Rabu, 17 November 2010

“ABDI DALEM” versi bahasa indonesia
Ide cerita : Tim Kreatif Lumbung Art Tema
Skenario : Ahmad Robitul Wafa
Langit sore itu terlihat mendung, tampaknya akan turun hujan, namun aku masih terus berjalan menyusuri jalan yang aku lewati untuk mencari sesuatu yang aku cari.
“ketika saya memutuskan untuk menjadi abdi dalem, bukan gaji atau upah yang saya harapkan namun ketentraman/kemuliaan batin dalam kehidupan dan semata-mata hanya mengharapkan berkah dari Yang Maha Kuasa, abdi dalem adalah seorang abdi pelestari budaya”,
kalimat ini terucap dari bibir seorang abdi dalem yang aku temui sedang duduk-duduk santai di Kraton Ngayogyakarto.

Synopsis
Mengangkat sebuah kisah nyata seorang abdi dalem kraton ngayogyakarta akan kisah perjuangan dalam kehidupan keluarganya. Cerita ini berkisah dalam satu keluarga abdi dalem, berawal hanya dengan upah per-bulan 5 ribu inilah sebuah perjalanan seorang abdi dalem dimulai dengan berbagai permasalahan seperti masalah ekonomi. Namun bagi seorang abdi dalem tidak menjadi masalah karena abdi dalem bukan merupakan suatu pekerjaan tapi pengabdian kepada rajanya. Sikap seorang bapak inilah (abdi dalem) akhirnya ditentang oleh anaknya sendiri, karena menilai bahwa bangsa sekarang tanpa duit tidak akan bisa maju.
Singkat isi cerita naskah ini adalah seorang bapak (abdi dalem) yang menginginkan anaknya meneruskan pengabdiaannya sebagai abdi dalem di kraton ngayogyakarta namun anaknya tidak ingin meneruskan pengabdiaan bapaknya karena anaknya menilai abdi dalem bukan suatu pekerjaan melainkan budak rajanya. Alasan lain, anaknya sudah merasa nyaman dengan pekerjaan yang sekarang dijalani.
Cerita ini tidak menemukan ending atau akhir kisah karena bapaknya hanya menunggu waktu suatu saat anaknya pasti meneruskan pengabdiaannya dan anaknya hanya hanya bisa berpikir terus sementara ibunya hanya bisa menjadi tameng kemarahan suaminya kepada anaknya.
***
Dipagi hari, seorang abdi dalem sedang bersiap-siap akan berangkat menuju kraton. Dan istrinya sedang bersih-bersih di ruang tamu yang kemudian menyiapkan secangkir kopi dan sepiring makanan buat suaminya.

Bapak    :    (diteras baru bersih-bersih/bergumam atau apalah)
Ibu         :    (keluar dari dalam lalu menuju teras) kelihatannya bapak sedang ngomong sendirian, memangnya ada apa pak?
Bapak    :    (menoleh dan masih asyik dengan aktifitasnya) begini bu, bapak itu berpikir sudah waktunya atun meneruskan tugas bapak di kraton.
Ibu         :    (menyahut) sebagai abdi dalem!.
Bapak    :    (menyahut) iya bu, tapi bapak itu masih ragu dengan anak kita, apa atun itu mau meneruskan pengabdian bapak di kraton ngayogyakarta sebagai abdi dalem?
Ibu         :    ibu juga ndak tahu pak soalnya anak jaman sekarang sudah ndak mau lagi mengenal budayanya.
Bapak    :    ya sudah bu, semoga saja atun mau.
Ibu         :    semoga saja pak..(suasana sedikit berubah) ini pak, bajunya sudah siap.
Bapak    :    (menyahut) ibu taruh dalam dulu.
Ibu         :    (meninggalkan bapak masuk kerumah)
Bapak    :    (lalu masuk ke rumah, aktivitas)
(bapak sedang asyik merokok lalu ibu keluar dari dalam membawakan minum bapak)
Ibu         :    pak, apa ndak ada pilihan lain untuk atun, selain menjadi abdi dalem?.
Bapak    ;    (menyahut) bu, bukan ada atau tidaknya pilihan, tapi abdi dalem bagi keluarga kita itu merupakan adat turun temurun yang harus dijaga.
Ibu         :    benar pak, tapi ibu pikir, atun sudah merasa nyaman dengan pekerjaannya sekarang sebagai penjual es dawet.
Bapak    :    tapi masalahnya bu, moral generasi anak muda saat ini perlu diperhatikan biar masa depannya menjadi lebih baik!.
Ibu         :    lhoo, bapak itu lupa kalau atun pernah sekolah dan pastinya atun juga belajar tentang moral itu pak?!.
Bapak    :    iya, tapi coba ibu lihat sendiri anak-anak jaman sekarang, meskipun mereka pernah merasakan duduk dibangku sekolah tapi kiblat moralnya bukan pada budayanya sendiri melainkan budaya barat!..(hening sejenak)
Ibu         :    (hati-hati dalam bicaranya) menurut bapak, apa atun itu sudah bermoral budaya barat?.
Bapak    :    (menyahut) bukan begitu bu maksud bapak, kalau atun nanti mau meneruskkan pengabdian bapak sebagai abdi dalem di kraton, atun tidak akan mudah terpengaruh dengan budaya barat!.
Ibu         :    (suasana sedikit berubah) iya pak, ibu sebenarnya juga merasa khawatir kalau nanti atun  malah lupa dengan budayanya sendiri.
Bapak    :    bapak itu cuman tidak ingin tatanan moral kehidupan masyarakat timur luntur karena pengaruh moral budaya barat..(mengalihkan bicaranya) oiya, ibu sudah bilang sama atun tentang keinginan bapak?.
Ibu         :    (menyahut)sudah pak, tapi ibu ndak tahu, apa dia mau..atun cuman bilang, nanti atun pikirkan.
Bapak    :    yasudah bu, sekarang atun dimana?.
Ibu         :    itu atun masih didalam.
Bapak    :    tolong panggilkan dia bu, biar bapak yang ngomong lagi.
Ibu         :    (ibu beranjak masuk kedalam memanggil atun) nduk…sini nduk, dipanggil bapakmu ini lho..ada yang mau dibicarakan sama bapakmu.
(ibu dan atun keluar)
Bapak    :    Bagaimana nduk?, apa sudah kamu pikirkan..bapak dan ibu itu berharap kamu bisa meneruskan pengabdian bapak di kraton sebagai abdi dalem
Atun      :    sudah atun pikirkan pak..(berpikir sejenak) atun tidak ingin meneruskan pengabdian bapak di kraton..atun berpikir kalau kita sekarang sudah hidup di jaman budaya colonial, dijaman yang semuanya serba maju..
Ibu         :    (menyahut berharap) nduk, ibu sama bapak itu kepengen kamu meneruskan pengabdian bapak di kraton.
Atun      :    (menyahut) tapi bu, abdi dalem itu hanya budak kekuasaan rajanya, yang kerjanya cuman disuruh-suruh kesana kemari, dan jaman sekarang bukan budak yang dibutuhkan tapi ilmuwan atau pakar-pakar pintar yang mandiri.
Ibu         :    (menyahut) hush..jangan ngomong seperti itu..ndak ilok, nanti kamu bisa kualat lho nduk.
Bapak    :    nduk..bapak kasih tau, kalau abdi dalem itu bukan budak rajanya, raja sebagai pemimpin tidak pernah melihat abdi dalem sebagai hubungan atasan dan bawahan, tapi abdi dalem itu sebagai seseorang yang mengabdi pada budayanya.
Atun      :    (menyahut) mengabdi budaya seperti apa pak kalau tidak bisa membawa bangsa kita maju, justru ilmuwanlah atau cendikiawan yang kita butuhkan saat ini.
Bapak    :    (sedikit ketawa) ooalah nduk..jangankan ilmuwan atau cendikiawan seperti yang kamu bilang, seribu sarjana di luar sana masih ada yang mau mengabdikan diri sebagai abdi dalem..dan kamu itu juga harus sadar nduk, yang memberikan kemerdekaan pada jaman perang itu salah satunya yaa abdi dalem, abdi dalem telah mengorbakan nyawanya buat kemajuan bangsa kita..apa kamu masih ragu dengan namanya abdi dalem?.
Atun      :    iya pak, aku tahu itu. Tapi kalau bapak masih menginginkan aku menjadi abdi dalem, mau makan apa anak-anak ku nanti hanya dengan uang lima ribu setiap bulannya?..aku tidak bisa hidup dengan cara seperti itu pak,,
Bapak    :    (terlihat sabar) nduk..abdi dalem itu juga punya keluarga seperti kita ini, walaupun upah yang diterima abdi dalem itu kecil bukan berarti abdi dalem tidak bisa bertahan hidup, buktinya sampai saat ini kita masih bisa hidup dan kamu atun, bisa sekolah sampai lulus walaupun kita hidup dengan uang lima ribu per-bulan, dan bapak yakin ada nilai-nilai suci yang diyakini dalam kehidupan abdi dalem sehingga membawa rasa ayem.
Atun      :    (menyahut) tapi pak,,sampai kapan pun abdi dalem itu hanya sebagai pesuruh dan abdi dalem tidak pantas disebut pekerjaan.
Bapak    :    apa kamu belum paham juga nduk? Abdi dalem itu bukanlah sebuah pekerjaan yang menjanjikan kemewahan, tapi pengabdian jiwa dan raga. (sabar) nduk..mereka yang mau menjadi abdi dalem itu selalu menganggap apa yang dilakukan adalah wujud pengabdian kepada sultan dan kraton jogja, bukan uang yang mereka cari, tapi kemuliaan batin dan keberkahan dalam kehidupannya.
Atun      :    Pak, aku juga akan bisa mulia dengan pekerjaanku sekarang ini tanpa menjadi abdi dalem.
Bapak    :    (menyahut) Tapi kemuliaanmu tidaklah dapat menentramkan batinmu. Sebab, tidak kamu dapatkan keberkahan didalamnya.
Atun      :    AH……,aku tidak mengerti jalan pikiran kuno bapak….(sambil berangkat keluar rumah).
Bapak    :    Dasar otak colonial ….(sentak bapaknya sambil mematikan rokok dan kemudian memanggil ibu).
Bapak    :    Bu…..(ibu keluar) bapak berangkat dulu . . .
Ibu         :    Iya pak…..hati-hati di jalan.

Di saat kehidupan membutuhkan kemewahan
Kala kekayaan dan kemegahan seolah menjadi Tuhan
Apa yang membuatmu terdiam kaku dalam kesederhanaan
Jalan apa yang kau cari sehingga kau memilih tetap duduk bersila di antara lutut para penguasa
Mungkin ketenangan dan ketentraman batinlah yang terus membuatmu tersenyum
Namun itulah yang ada dalam batok kepalaku….(di baca Narator…)

Isi cerita maupun akhir cerita abdi dalem ini masih bisa dikembangkan sendiri sesuai sutradara atau kelompok yang menggarap cerita ini.
*….*
10 mei 2009